Peran Mahasiswa sebagai Agent of Change dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam Indonesia sebagai Keramik Konvensional: Dari Sederhana Hingga Bernilai Tinggi

Opini Mahasiswa - 29 Januari 2021 - 12:00 AM

Indonesia merupakan negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah. Salah satu contohnya yaitu ketersediaan bahan baku untuk pembuatan material keramik, seperti pasir kuarsa, ball clay, ilmenite, bauksit, kaolin dan pasir zirkon. Mineral tersebut terdapat di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Bengkayang. Kebutuhan permintaan akan keramik di Indonesia mengalami peningkatan seiring juga dengan pertambahan penduduk. Industri keramik nasional menunjukkan kinerja positif melalui nilai penjualan yang tumbuh sekitar 10 – 15 % dengan volume mencapai 385 – 402 juta m2 pada tahun 2016. Namun terkhusus di Kalimantan perlu diketahui bahwa perkembangan industri keramik masih sangat minim. Hal tersebut dikarenakan adanya keterbatasan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang masih sangat kurang memadai. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolak ukur, semakin banyak output yang diproduksi menunjukkan semakin tinggi suatu pertumbuhan atau suatu pembangunan ekonomi terutama terhadap suatu sumber daya alam (SDA). Untuk itu sebagai Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi di Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang juga mempelajari tentang Keramik, kami memiliki gagasan untuk menciptakan suatu produk sederhana berbahan dasar keramik yang dapat diolah menjadi keramik konvensional yang bernilai tinggi. Peluang ini selain memanfaatkan SDA yang ada juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, serta dapat meningkatkan perekonomian yang ada di Indonesia sendiri.

Kebutuhan SDA hayati semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. SDA merupakan semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik. Berdasarkan sifatnya, Sumber daya alam digolongkan menjadi SDA yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat di perbaharui. SDA yang dapat diperbaharui adalah SDA yang dapat terus dilestarikan walaupun terus menerus dimanfaatkan contohnya tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme dan lain - lain. Sedangkan Sumber daya alam yang jumlahnya terbatas, proses pemakaiannya lebih cepat daripada proses pembentukannya dan akan habis jika tidak dimanfaatkan seperlunya contohnya seperti minyak bumi, batu bara, emas dan hasil tambang lainnya.

 

Sumber Daya Alam (SDA) Sebagai Penopang Perekonomian
Indonesia memiliki hasil tambang yang berlimpah ruah, namun sejauh ini pemanfaatan sumber daya alam itu sendiri tergolong sangat tidak sesuai. Sumber daya alam seharusnya mampu menopang perekonomian suatu negara. Kekayaan alam yang terkandung didalam perut bumi merupakan sumberdaya alam yang tak terbarukan. Oleh karena itu, pengelolaanya perlu dilakukan seoptimal mungkin dengan mengedepankan prinsip efisiensi, transparan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan [1]. Perlu kerja sama dari pemerintah dan masyarakat untuk bertindak tegas terhadap pengelolaan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, sehingga rakyat Indonesia benar - benar bisa merasakan manfaat dari hasil bumi-nya sendiri. Pemanfaatan SDA dapat menopang perekonomian di Indonesia karena hasil olahan yang telah menjadi produk jadi dapat dimanfaatkan serta dapat diekspor ke luar negeri. Pemerintah dan masyarakat adalah pasangan hidup yang saling memberi dan membutuhkan. Kontribusi dan harmonisasi keduanya akan menentukan keberhasilan pembangunan bangsa. Dua aspek penting tersebut harus diperhatikan agar tercipta kondisi sinergis antara keduanya sehingga dapat membawa perubahan kearah perbaikan dan peningkan taraf hidup masyarakat.

 

Ketersediaan Bahan Baku Pembuatan Keramik
Diketahui bahwa industri keramik nasional menunjukkan kinerja positif melalui nilai penjualan yang semakin lama semakin meningkat, yaitu mengalami pertumbuhan sekitar 10 – 15 % dengan volume mencapai 385 – 402 juta meterpersegi (m2) pada tahun 2016. Pada awal 2017, sektor ini menambah kapasitas dengan beroperasinya pabrik baru di Jawa Timur (Winarto , 2017). Relevan dengan tingkat produksi keramik tersebut, indonesia diketahui memiliki ketersediaan SDA pembuat keramik yang sangat melimpah seperti halnya clay (tanah liat), feldspar, dan koalin. Ketersediaan bahan baku keramik di Indonesia menjadikan nilai tambah bagi para pelaku usaha keramik ataupun industri keramik untuk mengolah dan menjadikannya produk-produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dan memiliki nilai jual. Dari situlah dapat disimpulkan bahwa SDA memiliki peranan yang sangat penting dalam industri keramik untuk menjalankan proses produksinya [2].

Terdapat berbagai endapan mineral indsutri di Kalimantan Barat, yaitu seperti pasir kuarsa, ball clay, ilmenite, bauksit, kaolin dan pasir zirkon. Mineral Tersebut terdapat di Kabupaten Sanggau, Pontianak, Sambas, Singkawang, Ketapang, Sintang dan Bengkayang. Belum banyak diketahui bahwa terdapat beberapa endapan mineral yang ada di Kabupaten Singkawang seperti kaolin, pasir kuarsa dan lempung bola dengan total endapan. sekitar 1.200.000 m3, 930.000 m3 dan 1.790.000 m3 masing-masing. Sedangkan di Kabupaten di
Bengkayang terdapat endapan pasir zirkon, kaolin, pasir kuarsa, tanah liat dan bola tanah liat dengan jumlah total deposit sekitar 4.980.000 m3, 8.700.000 ton, 6.800.000 ton, 2.700.000 ton dan 3.270.000 ton masing-masing [3].

 

Kurangnya Sumber Daya Manusia
Meski SDA di Indonesia berlimpah, perkembangan industri keramik di Kalimantan ataupun di Indonesia sendiri masih tergolong
minim. Hal ini dikarenakan keterbatasan teknologi dan SDM yang masih kurang memadai. Oleh karena itu, kami sebagai mahasiswa
yang mana merupakan agent of change (agen perubahan) melihat kesempatan terdapat SDA untuk pembuatan material yang berlimpah ini sebagai peluang. SDM juga merupakan masalah yang penting dalam pengolahan SSDM, karena dalam memanfaatkan dan mengolah SDA ini diperlukan orang –orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan produk- produk sedemikian rupa yang nantinya akan memiliki nilai jual.

Kami sebagai mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi ITK, yang mana lingkup belajar kami fokusannya ada pada material yang mana salah satunya adalah keramik. Kami mempelajari mengenai struktur keramik, proses pengolahan keramik, jenis – jenis keramik konvensional, kelebihan dan kekurangan dari keramik dan nilai jual dari keramik. Oleh karena itu sebagai agent of change (agen perubahan) yang melihat potensi SDA yang berlebih di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Barat ini kami akan membuat produk olahan berbahan dasar tanah liat/clay untuk menjadi produk yang bernilai jual tinggi dengan pemanfaatan metode yang sederhana.


Pengolahan Keramik Menjadi Produk Jadi
Sebagai mahasiswa kami berinisiatif untuk membuat produk Vas bunga dari keramik dengan panjang 37 cm, lebar 19 cm, dan tinggi 37 cm. Pada pembuatan Vas bunga ini dibutuhkan modal awal untuk menjalankan usaha pembuatan produk dari variable cost, fixed cost, dan investasi pada alat membutuhkan dana sebesar Rp6.000.000,00. Dari berbagai macam jenis keramik yang ada semuanya memiliki harga/nilai jual yang berbeda-beda, dimana temperatur yang digunakan sangat berpengaruh terhadap nilai jual yang akan ditentukan. Agar usaha kami menguntungkan dan ekonomis maka kami menjual dengan harga Rp 40.000,00 dan dalam sebulan dari kami menargetkan produk terjual sebanyak 150 buah agar dapat menutupi biaya produksi.

Dari perhitungan nilai jual keramik konvensional tersebut dan dari diketahui mengenai ketersediaan SDA yang melimpah, serta sumber daya manusia yang memadai, kami sebagai mahasiswa indonesia mewakili ITK memiliki gagasan untuk mengembangkan SDA yang melimpah di Kalimantan Barat ini untuk dijadikan produk dari keramik dengan nilai jual yang tinggi dengan memanfaatkan hasil tambang yang berasal dari alam. Peluang ini selain memanfaatkan SDA yang ada juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, serta dapat meningkatkan perekonomian di Indonesia sendiri. Pemerintah Indonesia tidak perlu lagi mengimpor produk seperti Vas bunga ini dari luar, justru pemerintah Indonesia bersama masyarakat Indonesia saling membantu untuk mendsitribusikan keramik konvensional ini ke dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus memiliki andil besar dalam perubahan yang terjadi di Indonesia termasuk menjalankan peranan sebagai agent of change sebagai penggerak untuk memunculkan ide-ide yang baru dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di indonesia

Penulis: 
1. Oktaviani Tang (06171054)
2. Riris Betteng (06181069)
3. Dearma Napitupulu (06181021)

Sumber:
[1] Busyra Azheri ; Prinsip Pengelolaan Mineral dan Batu Bara, kajian Filosifis terhadap Undang Undang No 4 Tahun 2009, PT Rajawali Pers, 2016, hlm 26
[2] Jurdilla,And Rahaman. 2019. “Ceramic Processing and Sintering”. New York: Marcel Dekker.
[3] Subari. 2008. Glass Construction Manual. Birkhauser. Basel, Switzerland.
[4] Yudho, Winarto. 2017. “Penjualan Keramik Tumbuh 15% Pada 2016” :Jakarta